Sabtu, 10 April 2021

Sejarah Pellokila

SEJARAH PELLOKILA
Penulis: Sonny Pellokila, S.Pt.

====================================
Catatan Yg Posting: 
Pellokila zaman now tidak ada yg tertarik menjadi Manek walau berdarah Manek sehingga punya hak yang sama dengan Teik / Klan Manek lain di Termanu serta punya kemampuan memimpin. Namun, Mereka tahu, Manek telah lewat masanya 😀🙏
====================================

Pello Kila merupakan generasi ke empat (ke-4) dari Tola Manu sebagai Manek yang paling tersohor di Termanu. Pello Kila adalah putra sulung dari Seni Kila yang juga merupakan Manek di Termanu.  Pello Kila mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sinlae Kila., dan Pello Kila juga dikenal sebagai orang pertama pelopor Bahasa Melajoe di Rote.

VOC yang merupakan sekutu inti dari Termanu membutuhkan seorang penerjemah dari Bahasa Rote ke Bahasa Melajoe,  maka pada tahun 1679, Pello Kila dengan status sebagai penguasa muda di Termanu pada waktu itu disekolahkan ke Coupang oleh VOC untuk belajar Bahasa Melajoe dengan tujuan agar Pello Kila dapat menjadi “juru bicara dan penerjemah Bahasa” di Pulau tersebut mewakili VOC. Sumber : Social and Ecological Systems - Halaman 35. Inilah pertama kali orang rote disekolahkan oleh VOC untuk belajar Bahasa Melajoe di Coupang.

Dengan status sebagai penguasa muda di Termanu sebelumnya dan orang pertama di Rote yang menguasai Bahasa Melajoe, Pello Kila diangkat sebagai Manek di Termanu sejak tahun 1681 bersama seorang Fettor yang bernama “Sadu Kiuk”. (Sumber: Daghregister  VOC 1681). Pello kila berkuasa di Termanu dari tahun 1681-1691

Yang diperbuat oleh Pello Kila semenjak menjabat Manek di Termanu dari tahun 1681-1691

• Luas wilayah kekuasaan Manek Pello Kila di Termanu hampir mencapai 2/3 dari seluruh wilayah Rote, yang terdiri dari Termanu, Keka, Talae, sebagian Bokay dan Lelenuk.
• Manek Pello Kila merupakan orang pertama pelopor Bahasa Melajoe di Rote
• Manek Pello Kila merupakan orang pertama dari seluruh manek di Rote yang melakukan diplomasi dengan Gouvernor General Belanda di Batavia melalui surat dari Manek Pello Kila tertanggal 20 Oktober 1681.

Pello Kila memutuskan untuk terlepas dari Masahoek dan membentuk Nilu Teik dengan tujuan agar garis keturunannya sebagai manek tetap dipertahankan. Fungsi dari Nilu Teik sebagai alat untuk menunjukkan status dalam perkawinan atau kematian atau moment-moment adat lainnya. Di dalam Nilu Teik hanya terdiri dari satu marga, yaitu Pellokila. Pada era Pello Kila hanya dikenal dua (2) Teik  yang berbasis manek, yaitu Hailitik Teik dan Nilu Teik.

Nilu Teik sendiri mempunyai symbol atau icon angka delapan (8) horizontal yang diambil dari gambar tapal kuda. Angka delapan (8) horizontal adalah angka yang tidak memiliki ujung dimana dalam filosofinya mengandung arti bahwa persaudaraan Pellokila didalam Nilu tidak pernah putus dan tidak pernah berakhir.

Sejak tidak menjadi Manek di Termanu, Pello Kila tetap dipakai oleh VOC sebagai juru bicara dan penerjemah Bahasa di Pulau Rote sampai pada kematiannya pada tahun 1718. 

SEJARAH “KOAFOLA PELLOKILA” DI DESA PARITI (BINIFU), KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG

Pada tahun 1785 terjadi suatu peristiwa di Hoiledo-Termanu yang disebut dengan “Pergolakan Hoiledo”. Perselisihan ini terjadi karena Ingu Fao yang bertempat di kampong Lefemuni telah bergabung dengan Hoiledo ingin memisahkan diri dari Termanu, mengikuti  jejak Keka dan Talae yang telah memisahkan diri dari Termanu pada tahun 1772. Klan Ingu Fao yang menempati kampung Lefemuni dan sebagian Klan Nilu Teik yang menempati hoiledo (terletak diantara termanu dan Ba'a) menganggap mereka sudah pantas/layak memisahkan diri dari Termanu karena dari sisi jumlah penduduk mereka sudah hampir sama dengan Keka dan Talae.

Pada waktu itu, posisi Belanda di Timor Barat terdesak akibat serangan dari Sonbai dari arah Fatuleu dan Portugis hitam dari arah Oekusi dan Amfoan. Dengan argument  mengamankan perselisihan ini oleh pihak Belanda, sebagian klan Nilu Teik yang menempati Hoiledo dan sebagian klan Ingu Fao yang menempati kampong Lefemuni, dipindahkan ke Pariti. Sumber : Klen, mitos dan kekuasaan: struktur sosial Indonesia bagian Timur. 

Salah satu Klan Nilu Teik yang ikut kloter  pertama ke Pariti pada tahun 1785 adalah Koa Fola (Koan Fora), anak dari Fola Pello yang menempati Hoiledo. Untuk memperingati dan mengenang jasa dari Koa Fola, khususnya di Pariti, dibuatlah Monumen “Koafola Pellokila”.

Peristiwa ini sebenarnya biasa-biasa saja, namun diboncengi oleh sebuah kepentingan dimana pada waktu itu, salah satu anak dari Ndaomanu Sinlae (Ndaomanu Teik) yang bernama “Sadu Ndaomanu” ingin merebut kembali takhta kerajaan di Termanu dari tangan Manek “Muda Fola” (Fola Teik) namun selalu gagal. Peristiwa perebutan kekuasaan ini dikenal dengan peristiwa “Radja Geslacht”.

Suku Ingu Fao yang menempati kampung Lefemuni mendapat dukungan dari “Sadu Ndaomanu”. Mereka berusaha mempengaruhi orang-orang kesatria di Hoiledo untuk terus melakukan pergolakan dan pemberontakan, dan pada akhirnya berdasarkan laporan Manek/Radja Termanu pada waktu itu, yaitu “Muda Fola” kepada Residen Belanda di Kupang pada waktu itu yang bernama “Willem Adriaan Van Este”, salah satu kesatria dari Hoiledo yang bernama “Koa Fola” (dalam Bahasa Belanda di tulis dengan “Koan Fora”) ditangkap di Hunulain..

Agar kampung Hoiledo dan beberapa kampung disekitarnya tetap kondusif, dan dengan pertimbangan bahwa Portugis telah menguasai dan menempati sebagian wilayah Pantai Utara Timor Barat, yaitu wilayah Atapupu, Wini dan pantai Makassar di Oekusi dan akan menyerang Belanda di wilayah Amfoan dan sekitarnya maka pada tahun 1785, Residen “Willem Adriaan Van Este” mengambil suatu kebijakan untuk memobilisasi (kloter I) para kesatria yang melakukan pemberontakan di Hoiledo dan disekitarnya untuk di tempatkan di wilayah Amfoan agar dapat membendung serangan dari Portugis.

Koa Fola bersama kesatria lainnya dari Rote Termanu mendarat di pantai Sulamu. Koa Fola di tunjuk langsung oleh Belanda untuk memimpin beberapa kesatria dari Rote Termanu. Mereka langsung di mobilisasi oleh Belanda dari Sulamu untuk ditempatkan di Oepoli..Di Oepoli ternyata pasukan Koa Fola tidak mampu menahan serangan dari Portugis sebab dukungan dari militer Belanda sangat minim. Pasukan Koa Fola terus mundur dari Oepoli ke Manubelon, dan pada akhirnya mereka hanya bisa bertahan dan menetap di Barate.

Untuk mempertahankan hidup mereka dan membuat dapur Belanda tetap menyala, maka Belanda memerintahkan mereka untuk mengelola lahan-lahan di “Binifu” (Binifu saat ini dikenal dengan “Pariti”) yang merupakan lahan milik Belanda untuk menghasilkan bahan pangan. Sesuai kesepakatan kontrak dagang yang ditandatangani oleh semua radja yang berada di Pulau Timor dengan VOC pada 4 Juni tahun 1756 (Lebih dikenal dengan “Kontrak Paravicini), bahwa 6 pal dari bibir pantai (zes palen gabied) adalah milik  Belanda di teluk Kupang, mulai dari Tanjung Oesinas sampai dengan Tanjung Sulamu. Sejak itulah, Binifu dan sekitarnya mulai dikenal sebagai salah satu pusat lumbung pangan dari Belanda, terutama di Pantai Utara Pulau Timor Barat.

Pada tahun 1819, kembali terjadi pergolakan dan pemberontakan di Hoiledo. Penyebabnya  masih hal yang sama, yaitu Hoiledo ingin memisahkan diri dari Termanu dan dipicu dengan peristiwa Radja Geslacht yang belum selesai. Atas kejadian ini, Residen J.A. Hazaart mengambil suatu kebijakan untuk memobilisasi (kloter II) hampir semua penduduk di Kampung Hoiledo dan sekitarnya termasuk perempuan dan anak-anak. Kebijakan  ini, selanjutnya dikenal dengan kebijakan politik adu domba antara orang Rote dan orang Timor (suku Dawan) oleh Belanda, dimana orang-orang Rote yang dimobilisasi dari Hoiledo dan sekitarnya akan dijadikan sebagai pagar tanaman hidup atau benteng penyangga dan pertahanan dari serangan Portugis dan  Sonbait.

Dalam mobilisasi kali ini, terdapat adik kandung dari Koa Fola yang bernama “Besi Fola”, dan anak kandung dari Koa Fola yang bernama “Taek Koa”, serta anak kandung dari Sadu Ndaumanu (pemimpin pergolakan di Hoiledo pada tahun 1785) yang bernama “Nafi Saduk”. Mereka pertama ditempatkan di Barate.

Nafi Saduk yang merupakan cucu dari Ndaomanu Sinlae dan sebagian rombongan lainnya ditugaskan oleh Belanda untuk memimpin pasukan orang Rote Termanu untuk menghadapi serangan Portugis dari arah Amfoan dan sekitarnya, dan mereka tetap menempati Barate. Sedangkan Taek Koa yang merupakan anak dari Koa Fola bersama sebagian rombongan lainnya ditugaskan dan ditempatkan di Binifu untuk mengamankan lumbung pangan Belanda di Binifu dan sekitarnya dengan pertimbangan bahwa lumbung pangan Belanda yang terletak di Binifu dan sekitarnya sering diganggu oleh “Radja Sonbait dan para Meo nya” dari arah gunung Fatuleu.

Koa Fola akhirnya meninggal dunia pada tahun 1835 di Kota Buik-Barate, sedangkan Nafi Saduk terbunuh di sebuah kali yang saat ini di kenal dengan kali “Termanu”.  Selanjutnya Belanda mempercayai Taek Koa sebagai pempimpin orang Rote Termanu yang menempati Barate, Binifu dan sekitarnya. 

Pada masa kepemimpinannya  (Taek Koa) sering terjadi peperangan dengan suku Dawan, hingga akhirnya terjadi kesepakatan damai dengan pemimpin suku Dawan  pada tahun 1855 di kali Termanu. Adapun perjanjian tersebut  dikenal dengan sebutan “ PITAIM NASI DAN PITAIM NUKE “ yang artinya : Saudara Tua dan Saudara muda,dimana Taek Koa dan pasukannya dianggap sebagai saudara tua dan menguasai daratan sembilan pal jaraknya dari arah laut ke pegunungan dan sisanya dikuasai oleh suku dawan yang dianggap sebagai saudara muda. 

Taek Koa meninggal dunia di Binifu pada tahun 1879 dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama “Is Taek”. Pada tahun 1905 suku dawan  dari Mosutalen melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di pesisir Teluk Kupang  yang dikenal dengan perang Bipolo, kemudian pasukan tersebut  kembali kearah utara menuju Amfoang dan berpesta dikali Termanu , lalu Is Taek dan Absalom oleh Belanda diperintahkan untuk mengejar pasukan    tersebut  dan berhasil menangkap pemimpinnya dikali Termanu dan kemudian dibawa ke Binifu (sekarang Pariti), dalam perjalanan mereka berhenti dan melakukan percakapan disebuah kali dalam bahasa dawan yang berbunyi “ Talosim Talae “ yang  intinya mempertanyakan sikap suku dawan  yang mengingkari perjanjian damai pada tahun 1855 sehingga kali tersebut disebut Bilosi sampai saat ini.

Silsilah Koafola (dalam Bahasa belanda di tulis dengan Koanfora):

Pelo Kila memperanakan Pelo ana Pello, Pelo ana Pello memperanakan Nelu Pello, Nelu Pello memperanakan Lana Lenu, Lana Nelu memperanakan Pello Lana, Pa’a Lana, Ngoi Lana dan Sopa Lana. Dari Pello Lana, Pello Lana memperanakan Fola Pello dan Kulus Pello. Kulus Pello sebagai adik tetap menempati Hunulain, sedangkan kakaknya yang bernama Fola Pello menyebar ke Hoiledo. Dari Fola Pello,  Fola Pello memperanakan Koa Fola dan Besi Fola. Dari Koa Fola, Koa Fola memperanakan Taek Koa. Taek Koa memperanakan Is Taek, Sua Taek dan Simon Taek.

Penggunaan marga Pellokila di Desa Pariti dan sekitarnya terjadi pada tahun 1969, dimana sebelummnya digunakan marga Koanfora yang merupakan nama nenek moyang pertama (Koafola) yang datang dari Hoiledo ke Pariti.

Penulis : Sonny Pellokila, S.Pt

Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan jangan sekali-kali melupakan sejarah....

Senin, 02 Januari 2017

Kesaksian Rohani



Kesaksian Rohani -  "Saat itu saya sedang mempersiapkan buku untuk pelajaran esok hari. Namun ketika saya sampai di meja belajar, saya malah tidak tahu apa yang harus saya perbuat.

Lalu tiba-tiba saya ambil buku, dan tanpa saya rencanakan sebelumnya tiba-tiba saja saya langsung menggambar wajah orang-orang yang seram tanpa dapat saya kendalikan.
Dan setelah 2 atau 3 gambar kemudian, ada sebuah kekuatan lain yang turun atas tubuh saya. Saya lemas dan kehilangan kekuatan, jantung saya berdebar dengan sangat cepat, ada aliran panas yang terasa di dada dan merangkak naik sampai ke tengkuk. 

Saya benar-benar tidak punya kekuatan sama sekali. Kemudian ada pikiran lain yang masuk ke otak saya dan berkata, ‘Sebentar lagi kamu akan mati! Sebentar lagi kamu akan mati!'," ujar Abraham membuka kesaksiannya.

Sumber suara itu memang tidak terdengar secara audibel kepada Abraham tapi suara itu sepertinya bicara langsung kepada Abraham. Sontak hal itu membuat Abraham ketakutan karena memang dia tidak pernah mengalami hal seperti itu sebelumnya.

Sejak berusia 14 tahun, Abraham terkena sebuah penyakit yang aneh. Seakan roh kematian akan mencabut nyawanya. Dengan kondisinya yang lemah, Abraham berusaha mencari pertolongan. Abraham berlari ke omanya, dan ia hanya mampu bicara dengan nafas yang terputus-putus, "Oma, tolong saya! Saya sakit! Saya mau mati!".

Namun ternyata oma Abraham tidak tahu harus melakukan apa. Abraham pun dibawanya ke dukun. Sesampainya di sana, Abraham diberikan air yang telah dibacakan mantera sebelumnya. Sepulangnya dari dukun, bukannya menjadi lebih baik, keadaan Abraham menjadi semakin parah. Rasa panas di dadanya tidak mau hilang, jantung Abraham terus berdetak dengan sangat kencang dan ketakutan akan kematian begitu menghantui Abraham. Badannya juga menggigil kedinginan dan kekuatan sepertinya lenyap dari tubuhnya.

Sekalipun Abraham makan banyak sekali, ia tidak pernah merasa kenyang. Badannya pun tetap kurus dan sepertinya tidak punya tenaga. Parahnya lagi, Abraham merasakan otot di sekujur tubuhnya bergerak seperti detak jantung. Setiap saat selama 24 jam, Abraham merasakan ototnya terus bergerak, terkadang di pipi, badan, lalu berpindah ke kaki, terus saja berpindah-pindah.

Keadaan tubuhnya yang aneh benar-benar membuat Abraham ketakutan. Sekalipun Abraham berada di tengah-tengah orang banyak, ia tetap merasa ketakutan. 

"Saya benar-benar merasa ketakutan. Saya takut dengan dunia kematian yang begitu hebat. Dan sepertinya tidak ada yang bisa menolong saya," kisah Abraham.

Abraham pun menjadi depresi. Ia selalu teringat akan kata-kata bahwa sebentar lagi dirinya akan mati, ditambah lagi keadaan fisiknya yang terus saja terasa aneh. Abraham benar-benar tidak bisa berada di suatu tempat sendirian. Ia selalu saja mencari tempat dimana banyak orang sedang berkumpul sehingga ia bisa mendengar suara orang lain dan rasa takut yang dialaminya bisa sedikit ditahannya.

Ketika malam datang, hal itu menjadi masalah yang sangat besar bagi Abraham karena ia betul-betul takut untuk mati. Abraham benar-benar merasa belum siap untuk mati. Ketakutan Abraham tak terbendung lagi hingga Abraham akhirnya berhenti untuk sekolah. 

"Saya tidak bisa konsentrasi dengan pelajaran di sekolah. Setiap kali sedang belajar, alam pikiran saya hanya dibawa kepada ketakutan, kematian, dan tidak pernah terbersit untuk memikirkan hal yang lain. Sampai akhirnya saya putus sekolah. Saya tidak mau sekolah lagi," ujar Abraham menceritakan masa-masa terkelam dalam hidupnya.

Abraham terus mencari pertolongan dengan menemui kenalan pamannya untuk berdoa. Ketika didoakan oleh kenalan pamannya ini, Abraham merasakan dirinya kuat dan ada keberanian yang timbul di dalam dirinya. Tapi dalam perjalanan pulang, suara intimidasi akan kematian itu terus menekan pikiran Abraham dan pikirannya kembali dikuasai oleh ketakuan akan kematian itu. Dari hari ke hari, Abraham tidak melihat adanya perubahan pada dirinya.

"Suatu saat saya merasa tertekan karena saya tidak kunjung sembuh dan saya pun menangis menjerit, ‘TUHAN, kenapa penyakitku tidak sembuh-sembuh juga?!?!?!' karena ketika saya berdoa bersama hamba Tuhan itu, saya merasa nyaman, tenang, sepertinya sembuh. Tapi setelah itu saya tidak bisa merasakan hal itu lagi. Saya hanya terus berpikir, bagaimana caranya agar saya bisa keluar dari keadaan ini, tapi saya tidak bisa," ujar Abraham mengenai pergumulannya saat itu. 

Dalam keadaan tertekan dan depresi, Abraham pergi ke tempat ayahnya yang telah lama berpisah dengannya. Namun tak pernah diduga oleh Abraham sebelumnya, sambutan sang ayah hanya membuatnya sedih.
"Ayah saya tidak peduli bahwa saya sedang sakit dan dia tidak percaya sama saya. Dia hanya berpikir kalau memang sakit itu artinya terbaring dan tidak bisa bangun. Yang dia mau hanyalah saya kembali sekolah," ucap Abraham dengan sedih.

Selama Abraham kembali ke bangku sekolah, perlakuan ayahnya kepada dirinya tetap saja kasar, selalu mengganggap dirinya sebagai anak yang tidak becus, berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain. Abraham harus menerima makian demi makian dari ayahnya sendiri. Sebutan ‘anak sial', ‘tidak tahu diuntung' telah menjadi makanannya sehari-hari. Kata-kata kutukan senantiasa dilontarkan ayah Abraham kepada dirinya dan itu menimbulkan luka di hati Abraham.

Akhirnya Abraham menemukan seseorang yang dapat memberikan penghiburan kepada dirinya. Salah seorang teman sekolahnya senantiasa menghibur dan memberikan kata-kata penguatan bagi dirinya sampai akhirnya Abraham pun diajak ke sebuah pertemuan ibadah untuk anak-anak di sekolahnya. Itulah awal pertama Abraham tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat bagi dirinya. Untuk pertama kali pula Abraham mulai belajar percaya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan Yesus.

"Ada perubahan yang saya rasakan dengan penyakit saya. Saya bisa menghadapi intimidasi dari iblis, saya bisa mengalahkan suara-suara kematian yang selalu bergema di pikiran saya, dan saya katakan, ‘Tuhan sudah menebus saya dan saya tidak akan mati tapi akan hidup!' Dan penyakit saya mulai berkurang, debaran jantung saya yang cepat itu hilang, kemudian panas tubuh saya yang tinggi itu hilang," kisah Abraham.

Namun roh kematian itu tak pernah berhenti mengejar Abraham. Iblis datang menyerang Abraham dengan cara yang berbeda. Sebuah suara seperti gelombang radio masuk ke dalam telinga Abraham dan memegang dirinya, dan rasanya seperti roh Abraham ditarik keluar. 

Hal itu biasanya terjadi ketika Abraham sedang tidur. Ketika hal itu sedang terjadi menimpanya, Abraham hanya bisa mencoba berteriak, "Tuhan Yesus sudah tebus saya. Kamu tidak punya hak lagi atas tubuh saya," dan roh Abraham pun kembali ke dalam tubuhnya.

"Semenjak saat itu, saya mulai menggunakan nama Tuhan Yesus dengan lebih sungguh-sungguh lagi. Pada waktu yang lalu saya tidak pernah tahu akan kebenaran itu, saya tidak pernah tahu tentang nama Yesus yang sanggup mengalahkan apa pun. Tapi semenjak saya mulai mengenal Yesus di pertemuan-pertemuan ibadah itu, saya mulai kuat. Saya mulai berani dan mampu melawan kelemahan dan penyakit yang datang menyerang saya," ujar Abraham dengan muka berseri-seri.

Serangan yang biasa dialaminya mulai berkurang sampai akhirnya Abraham pun merasakan bahwa tubuhnya sudah benar-benar sehat. Ia pun bisa kembali hidup dengan normal dengan penyakit dan suara-suara intimidasi yang menghilang dari kehidupannya. 

"Sekarang saya sudah hidup dalam anugerah Tuhan, tidak hidup dalam kutuk lagi. Saya hidup dalam berkat dan kasih Tuhan. Dengan sakit penyakit itu, Tuhan mengantar saya untuk mengenal Tuhan, mengenal Juruselamat dengan baik, mengenal Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Itu yang saya syukuri sampai hari ini," ujar Abraham menutup kesaksiannya dengan penuh sukacita.

Sumber Kesaksian:
Abraham Pellokila


MENU

Sejarah Pellokila

SEJARAH PELLOKILA Penulis: Sonny Pellokila, S.Pt. ==================================== Catatan Yg Posting:  Pellokila zaman now ...