SEJARAH PELLOKILA
Penulis: Sonny Pellokila, S.Pt.
====================================
Catatan Yg Posting:
Pellokila zaman now tidak ada yg tertarik menjadi Manek walau berdarah Manek sehingga punya hak yang sama dengan Teik / Klan Manek lain di Termanu serta punya kemampuan memimpin. Namun, Mereka tahu, Manek telah lewat masanya 😀🙏
====================================
Pello Kila merupakan generasi ke empat (ke-4) dari Tola Manu sebagai Manek yang paling tersohor di Termanu. Pello Kila adalah putra sulung dari Seni Kila yang juga merupakan Manek di Termanu. Pello Kila mempunyai seorang saudara laki-laki yang bernama Sinlae Kila., dan Pello Kila juga dikenal sebagai orang pertama pelopor Bahasa Melajoe di Rote.
VOC yang merupakan sekutu inti dari Termanu membutuhkan seorang penerjemah dari Bahasa Rote ke Bahasa Melajoe, maka pada tahun 1679, Pello Kila dengan status sebagai penguasa muda di Termanu pada waktu itu disekolahkan ke Coupang oleh VOC untuk belajar Bahasa Melajoe dengan tujuan agar Pello Kila dapat menjadi “juru bicara dan penerjemah Bahasa” di Pulau tersebut mewakili VOC. Sumber : Social and Ecological Systems - Halaman 35. Inilah pertama kali orang rote disekolahkan oleh VOC untuk belajar Bahasa Melajoe di Coupang.
Dengan status sebagai penguasa muda di Termanu sebelumnya dan orang pertama di Rote yang menguasai Bahasa Melajoe, Pello Kila diangkat sebagai Manek di Termanu sejak tahun 1681 bersama seorang Fettor yang bernama “Sadu Kiuk”. (Sumber: Daghregister VOC 1681). Pello kila berkuasa di Termanu dari tahun 1681-1691
Yang diperbuat oleh Pello Kila semenjak menjabat Manek di Termanu dari tahun 1681-1691
• Luas wilayah kekuasaan Manek Pello Kila di Termanu hampir mencapai 2/3 dari seluruh wilayah Rote, yang terdiri dari Termanu, Keka, Talae, sebagian Bokay dan Lelenuk.
• Manek Pello Kila merupakan orang pertama pelopor Bahasa Melajoe di Rote
• Manek Pello Kila merupakan orang pertama dari seluruh manek di Rote yang melakukan diplomasi dengan Gouvernor General Belanda di Batavia melalui surat dari Manek Pello Kila tertanggal 20 Oktober 1681.
Pello Kila memutuskan untuk terlepas dari Masahoek dan membentuk Nilu Teik dengan tujuan agar garis keturunannya sebagai manek tetap dipertahankan. Fungsi dari Nilu Teik sebagai alat untuk menunjukkan status dalam perkawinan atau kematian atau moment-moment adat lainnya. Di dalam Nilu Teik hanya terdiri dari satu marga, yaitu Pellokila. Pada era Pello Kila hanya dikenal dua (2) Teik yang berbasis manek, yaitu Hailitik Teik dan Nilu Teik.
Nilu Teik sendiri mempunyai symbol atau icon angka delapan (8) horizontal yang diambil dari gambar tapal kuda. Angka delapan (8) horizontal adalah angka yang tidak memiliki ujung dimana dalam filosofinya mengandung arti bahwa persaudaraan Pellokila didalam Nilu tidak pernah putus dan tidak pernah berakhir.
Sejak tidak menjadi Manek di Termanu, Pello Kila tetap dipakai oleh VOC sebagai juru bicara dan penerjemah Bahasa di Pulau Rote sampai pada kematiannya pada tahun 1718.
SEJARAH “KOAFOLA PELLOKILA” DI DESA PARITI (BINIFU), KECAMATAN SULAMU, KABUPATEN KUPANG
Pada tahun 1785 terjadi suatu peristiwa di Hoiledo-Termanu yang disebut dengan “Pergolakan Hoiledo”. Perselisihan ini terjadi karena Ingu Fao yang bertempat di kampong Lefemuni telah bergabung dengan Hoiledo ingin memisahkan diri dari Termanu, mengikuti jejak Keka dan Talae yang telah memisahkan diri dari Termanu pada tahun 1772. Klan Ingu Fao yang menempati kampung Lefemuni dan sebagian Klan Nilu Teik yang menempati hoiledo (terletak diantara termanu dan Ba'a) menganggap mereka sudah pantas/layak memisahkan diri dari Termanu karena dari sisi jumlah penduduk mereka sudah hampir sama dengan Keka dan Talae.
Pada waktu itu, posisi Belanda di Timor Barat terdesak akibat serangan dari Sonbai dari arah Fatuleu dan Portugis hitam dari arah Oekusi dan Amfoan. Dengan argument mengamankan perselisihan ini oleh pihak Belanda, sebagian klan Nilu Teik yang menempati Hoiledo dan sebagian klan Ingu Fao yang menempati kampong Lefemuni, dipindahkan ke Pariti. Sumber : Klen, mitos dan kekuasaan: struktur sosial Indonesia bagian Timur.
Salah satu Klan Nilu Teik yang ikut kloter pertama ke Pariti pada tahun 1785 adalah Koa Fola (Koan Fora), anak dari Fola Pello yang menempati Hoiledo. Untuk memperingati dan mengenang jasa dari Koa Fola, khususnya di Pariti, dibuatlah Monumen “Koafola Pellokila”.
Peristiwa ini sebenarnya biasa-biasa saja, namun diboncengi oleh sebuah kepentingan dimana pada waktu itu, salah satu anak dari Ndaomanu Sinlae (Ndaomanu Teik) yang bernama “Sadu Ndaomanu” ingin merebut kembali takhta kerajaan di Termanu dari tangan Manek “Muda Fola” (Fola Teik) namun selalu gagal. Peristiwa perebutan kekuasaan ini dikenal dengan peristiwa “Radja Geslacht”.
Suku Ingu Fao yang menempati kampung Lefemuni mendapat dukungan dari “Sadu Ndaomanu”. Mereka berusaha mempengaruhi orang-orang kesatria di Hoiledo untuk terus melakukan pergolakan dan pemberontakan, dan pada akhirnya berdasarkan laporan Manek/Radja Termanu pada waktu itu, yaitu “Muda Fola” kepada Residen Belanda di Kupang pada waktu itu yang bernama “Willem Adriaan Van Este”, salah satu kesatria dari Hoiledo yang bernama “Koa Fola” (dalam Bahasa Belanda di tulis dengan “Koan Fora”) ditangkap di Hunulain..
Agar kampung Hoiledo dan beberapa kampung disekitarnya tetap kondusif, dan dengan pertimbangan bahwa Portugis telah menguasai dan menempati sebagian wilayah Pantai Utara Timor Barat, yaitu wilayah Atapupu, Wini dan pantai Makassar di Oekusi dan akan menyerang Belanda di wilayah Amfoan dan sekitarnya maka pada tahun 1785, Residen “Willem Adriaan Van Este” mengambil suatu kebijakan untuk memobilisasi (kloter I) para kesatria yang melakukan pemberontakan di Hoiledo dan disekitarnya untuk di tempatkan di wilayah Amfoan agar dapat membendung serangan dari Portugis.
Koa Fola bersama kesatria lainnya dari Rote Termanu mendarat di pantai Sulamu. Koa Fola di tunjuk langsung oleh Belanda untuk memimpin beberapa kesatria dari Rote Termanu. Mereka langsung di mobilisasi oleh Belanda dari Sulamu untuk ditempatkan di Oepoli..Di Oepoli ternyata pasukan Koa Fola tidak mampu menahan serangan dari Portugis sebab dukungan dari militer Belanda sangat minim. Pasukan Koa Fola terus mundur dari Oepoli ke Manubelon, dan pada akhirnya mereka hanya bisa bertahan dan menetap di Barate.
Untuk mempertahankan hidup mereka dan membuat dapur Belanda tetap menyala, maka Belanda memerintahkan mereka untuk mengelola lahan-lahan di “Binifu” (Binifu saat ini dikenal dengan “Pariti”) yang merupakan lahan milik Belanda untuk menghasilkan bahan pangan. Sesuai kesepakatan kontrak dagang yang ditandatangani oleh semua radja yang berada di Pulau Timor dengan VOC pada 4 Juni tahun 1756 (Lebih dikenal dengan “Kontrak Paravicini), bahwa 6 pal dari bibir pantai (zes palen gabied) adalah milik Belanda di teluk Kupang, mulai dari Tanjung Oesinas sampai dengan Tanjung Sulamu. Sejak itulah, Binifu dan sekitarnya mulai dikenal sebagai salah satu pusat lumbung pangan dari Belanda, terutama di Pantai Utara Pulau Timor Barat.
Pada tahun 1819, kembali terjadi pergolakan dan pemberontakan di Hoiledo. Penyebabnya masih hal yang sama, yaitu Hoiledo ingin memisahkan diri dari Termanu dan dipicu dengan peristiwa Radja Geslacht yang belum selesai. Atas kejadian ini, Residen J.A. Hazaart mengambil suatu kebijakan untuk memobilisasi (kloter II) hampir semua penduduk di Kampung Hoiledo dan sekitarnya termasuk perempuan dan anak-anak. Kebijakan ini, selanjutnya dikenal dengan kebijakan politik adu domba antara orang Rote dan orang Timor (suku Dawan) oleh Belanda, dimana orang-orang Rote yang dimobilisasi dari Hoiledo dan sekitarnya akan dijadikan sebagai pagar tanaman hidup atau benteng penyangga dan pertahanan dari serangan Portugis dan Sonbait.
Dalam mobilisasi kali ini, terdapat adik kandung dari Koa Fola yang bernama “Besi Fola”, dan anak kandung dari Koa Fola yang bernama “Taek Koa”, serta anak kandung dari Sadu Ndaumanu (pemimpin pergolakan di Hoiledo pada tahun 1785) yang bernama “Nafi Saduk”. Mereka pertama ditempatkan di Barate.
Nafi Saduk yang merupakan cucu dari Ndaomanu Sinlae dan sebagian rombongan lainnya ditugaskan oleh Belanda untuk memimpin pasukan orang Rote Termanu untuk menghadapi serangan Portugis dari arah Amfoan dan sekitarnya, dan mereka tetap menempati Barate. Sedangkan Taek Koa yang merupakan anak dari Koa Fola bersama sebagian rombongan lainnya ditugaskan dan ditempatkan di Binifu untuk mengamankan lumbung pangan Belanda di Binifu dan sekitarnya dengan pertimbangan bahwa lumbung pangan Belanda yang terletak di Binifu dan sekitarnya sering diganggu oleh “Radja Sonbait dan para Meo nya” dari arah gunung Fatuleu.
Koa Fola akhirnya meninggal dunia pada tahun 1835 di Kota Buik-Barate, sedangkan Nafi Saduk terbunuh di sebuah kali yang saat ini di kenal dengan kali “Termanu”. Selanjutnya Belanda mempercayai Taek Koa sebagai pempimpin orang Rote Termanu yang menempati Barate, Binifu dan sekitarnya.
Pada masa kepemimpinannya (Taek Koa) sering terjadi peperangan dengan suku Dawan, hingga akhirnya terjadi kesepakatan damai dengan pemimpin suku Dawan pada tahun 1855 di kali Termanu. Adapun perjanjian tersebut dikenal dengan sebutan “ PITAIM NASI DAN PITAIM NUKE “ yang artinya : Saudara Tua dan Saudara muda,dimana Taek Koa dan pasukannya dianggap sebagai saudara tua dan menguasai daratan sembilan pal jaraknya dari arah laut ke pegunungan dan sisanya dikuasai oleh suku dawan yang dianggap sebagai saudara muda.
Taek Koa meninggal dunia di Binifu pada tahun 1879 dan kepemimpinannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama “Is Taek”. Pada tahun 1905 suku dawan dari Mosutalen melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda di pesisir Teluk Kupang yang dikenal dengan perang Bipolo, kemudian pasukan tersebut kembali kearah utara menuju Amfoang dan berpesta dikali Termanu , lalu Is Taek dan Absalom oleh Belanda diperintahkan untuk mengejar pasukan tersebut dan berhasil menangkap pemimpinnya dikali Termanu dan kemudian dibawa ke Binifu (sekarang Pariti), dalam perjalanan mereka berhenti dan melakukan percakapan disebuah kali dalam bahasa dawan yang berbunyi “ Talosim Talae “ yang intinya mempertanyakan sikap suku dawan yang mengingkari perjanjian damai pada tahun 1855 sehingga kali tersebut disebut Bilosi sampai saat ini.
Silsilah Koafola (dalam Bahasa belanda di tulis dengan Koanfora):
Pelo Kila memperanakan Pelo ana Pello, Pelo ana Pello memperanakan Nelu Pello, Nelu Pello memperanakan Lana Lenu, Lana Nelu memperanakan Pello Lana, Pa’a Lana, Ngoi Lana dan Sopa Lana. Dari Pello Lana, Pello Lana memperanakan Fola Pello dan Kulus Pello. Kulus Pello sebagai adik tetap menempati Hunulain, sedangkan kakaknya yang bernama Fola Pello menyebar ke Hoiledo. Dari Fola Pello, Fola Pello memperanakan Koa Fola dan Besi Fola. Dari Koa Fola, Koa Fola memperanakan Taek Koa. Taek Koa memperanakan Is Taek, Sua Taek dan Simon Taek.
Penggunaan marga Pellokila di Desa Pariti dan sekitarnya terjadi pada tahun 1969, dimana sebelummnya digunakan marga Koanfora yang merupakan nama nenek moyang pertama (Koafola) yang datang dari Hoiledo ke Pariti.
Penulis : Sonny Pellokila, S.Pt
Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah dan jangan sekali-kali melupakan sejarah....
